Selasa, 22 Februari 2011

HADITS RIWAYAT BUKHARI TENTANG QURBAN (Syarah dan Kritik Hadits)


 PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
            Pertentangan politik dan teologi yang terjadi di kalangan Islam ummat Islam tidak disia-siakan oleh kalangan musuh Islam yang berkeinginan meruntuhkan Islam dari “dalam”. Para musuh Islam itu juga menggunakan senjata dengan membuat berbagai hadits palsu dalam memerangi Islam.[1] Di samping didorong oleh faktor politik dan teologi, di kalangan ummat Islam sendiri juga ada yang membuat hadits palsu dengan faktor-faktor yang lain, baik yang bersifat duniawi maupun bersifat agamawi.[2] Berbagai faktor yang mendorong ummat Islam melakukan pemalsuan hadits adalah untuk (1) membela kepentingan politik; (2) membela aliran teologi; (3) membela mazhab fiqh; (4) memikat hati orang yang mendengarkan kisah yang dikemukakannya; (5) menjadikan orang lain lebih Zahid; (6) menjadikan orang lain lebih rajin mengamalkan suatu ibadah tertentu; (7) menerangkan keutamaan surat Al-Qur’an tertentu; (8) memperoleh perhatian dan pujian dari penguasa; (9) mendapatkan hadiah uang dari orang yang digembirakan hatinya; (10) memberikan pengobatan kepada seseorang dengan cara memakan makanan tertentu; dan (11) menerangkan keutamaan suku bangsa tertentu.
            Menurut penelitian para ulama, seseorang yang membuat hadits palsu ada yang karena sengaja dan ada yang karena tidak sengaja. Di samping itu, pembuat hadis palsu ada yang disebabkan oleh keyakinannya memang membolehkan pembuatan hadis palsu dan ada yang karena tidak mengetahui bahwa dirinya telah membuat hadis palsu. Jadi, seseorang membuat hadis palsu di samping ada yang negatif, dan ini yang terlihat pada umumnya juga ada yang positif. Namun apa pun latar belakang dan tujuannya tersebut, pembuatan hadis palsu tetap merupakan perbuatan tercela dan menyesatkan.[3] Dengan terjadi pemalsuan-pemalsuan hadis tersebut, maka kegiatan penelitian hadis menjadi sangat penting. Tanpa dilakukan penelitian maka terjadi percampuran antara hadis nabi dan bukan hadis, yang akan mengakibatkan ajaran Islam mengandung berbagai ajaran yang menyesatkan.
Sungguh merupakan karunia yang luar biasa dari Allah SWT. Bahwa ternyata para ulama hadis telah bekerja  keras menyelamatkan hadis-hadis Nabi dari “penghancuran massal” yang untuk menyelamatkan hadis-hadis Nabi tersebut berupa penyusunan berbagai kaidah dan ilmu hadis yang secara ilmiah dapat digunakan untuk penelitian hadis.[4]  Dalam hubungan itu, penelitian sanad hadis menjadi sangat penting; penelitian terhadap pribadi para periwayat yang menyatakan telah memperoleh suatu riwayat hadis menjadi salah satu bagian terpokok dalam penelitian hadis.
Dalam makalah ini, penulis mengangkat tema makalah mengenai “Hadis tentang qurban (kritik dan syarah hadis)”.
B. Rumusan
            Berdasarkan latar belakang, penulis merumuskan beberapa masalah:
1.      Bagaimana kritik hadits (sanad dan matan) Riwayat Bukhari dari Anas bin Malik tentang Qurban?
2.      Bagaimana syarah hadits Riwayat  Bukhari dari Anas bin Malik tentang Qurban?














PEMBAHASAN
A.Sanad dan Matan Hadits Tentang Qurban
            Langkah-langkah dalam melakukan penelitian sanad dan matan hadits sebagai berikut:
1. Takhri>j Hadis
            Menurut bahasa, kata takhrij adalah bentuk masdar dari kata kharaja-yukhariju-takhrijan, berakar dari huruf-huruf; kha, ra, dan jim mempunyai dua makna dasar, yaitu al-nafadz ‘an al-syay~ artinya ’menembus sesuatu’ dan ikhtilaf lawannya artinya ‘perbedaan dua warna’.[5]  Secara terminologi, al-takhri>j memiliki dua makna, secara umum dan secara khusus. Secara umum, al-Takhrij adalah pengeluaran Hadis, oleh seorang Muhaddis dengan sanadnya, dan memilihnya dari kitab-kitab Hadis, dan menunjukkan letak Hadis tersebut pada sumber-sumber aslinya, serta menjelaskan martabat atau derajat dari hadis tersebut. Secara khusus, al-Takhri>j adalah mengangkat atau menyandarkan Hadis kepada sumber-sumber aslinya dan menjelaskan martabat atau derajat Hadis tersebut.[6]
Menurut ‘Abdu Al-Mahdi>y, setelah beliau mengadakan penelitian tentang para ulama dalam proses takhri>j al-hadi>s, maka beliau menyimpulkan bahwa metode takhrij tersebut dapat ditempuh dengan lima cara:
a.        Takhrij berdasarkan awal kata dari matan hadis.
b.      Metode-metode Takhrij berdasarkan salah satu lafadz dari lafadz-lafadz hadits.
c.       Takhrij berdasarkan periwayat tertinggi (pertama) dari sanad hadis.
d.      Takhrij berdasarkan tema hadits.
e.       Takhrij hadits berdasarkan jenis/sifat hadits.[7]
Dalam makalah ini, penulis  meneliti matan hadits tentang Qurban yang berbunyi:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ فَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا يُسَمِّي وَيُكَبِّرُ فَذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ
Metode takhrij yang digunakan dalam pencaharian hadis ini adalah dengan menggunakan metode takhrij melalui kata-kata dalam matan hadis tersebut dengan kata kunci (ضَحَّى), maka matan hadis tersebut secara lengkap beserta sanadnya dapat ditemukan dalam Ensiklopedi Hadits CDHK91 Ver. 1 (Kitab 9 Imam).[8]
Dari penelusuran dalam Ensiklopedi Hadis CDHK91 Ver. 1, maka diperoleh informasi sebagai berikut:
a. Riwayat Bukhari
حَدَّثَنَاآدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ فَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا يُسَمِّي وَيُكَبِّرُ فَذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ
Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami `Syu'bah telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih banyak daripada warna hitam, aku melihat beliau meletakkan kaki beliau di atas rusuk domba tersebut sambil menyebut nama Allah dan bertakbir, lalu beliau menyembelih domba itu dengan tangan beliau sendiri."[9]

b.Riwayat Muslim
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا
Terjemahan:
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Qatadah dari Anas dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah berkurban dengan dua domba putih yang bertanduk, beliau menyembelih dengan tangannya sendiri sambil menyebut (nama Allah) dan bertakbir, dengan meletakkan kaki beliau dekat pangkal leher domba tersebut."[10]

2.Kritik Sanad.
Setelah kegiatan takhriij hadis dilakukan, langkah selanjutnya, dalam kritik sanad adalah kegiatan al-I’tiba>r.[11]
a.I’tibar Sanad
            Kata al-I’tiba>r merupakan bentuk masdar dari kata I’tibara. Mahmud al-Thahhan mengemukakan di dalam kitabnya Tafsir Mutsthalah al-hadis, al-I’tiba>r menurut bahasa berarti memperhatikan sesuatu untuk mengetahui sesuatu yang lain yang sejenis dengannya. Menurut istilah ilmu hadits, al-Iti’bar berarti menelusuri jalur-jalur sanad yang lain untuk suatu hadis tertentu yang pada bagian sanadnya terdapat seorang periwayat saja untuk mengetahui apakah ada periwayat yang lain atau tidak (untuk bagian sanad dimaksud).[12]
            I’tibar sanad hadits Tentang Qurban  dengan jalur Imam Bukhari:
Nabi Muhammad SAW
قال

Anas bin Malik
عن
                                                                       
Qatadah bin Da'amah
حد ثنا

Syu'bah bin al-Hajjaj
حد ثنا

Adam bin Abu Iyas
حد ثنا

Imam Bukhari
b. Meneliti Pribadi Periwayat
            Setelah dilakukan kegiatan al-I’tibar sanad, langkah selanjutnya adalah meneliti pribadi periwayat. Untuk melakukan penelitian ini, diperlukan sebuah acuan. Acuan yang digunakan adalah kaidah kesahihan hadits bila ternyata hadits yang diteliti bukannlah hadits mutawattir.[13] Adapun rumusan kaidah kesahihan hadis yang dikemukakan Ibnu Salah adalah sebagai berikut:
1.      Hadits yang bersambung sanadnya (sampai kepada Nabi SAW).
2.      Diriwayatkan oleh (periwayat) yang ‘adil dan dhabith sampai akhir sanad.
3.      Tidak mengandung kejanggalan (syudzu>dz).
4.      Tidak cacat (illat).[14]
Sanad hadits tentang Qurban dari jalur Imam Bukhari sampai pada Anas bin Malik, dengan urutan sebagai berikut:
No
Nama
Sanad
Periwayat
Lambang
1
Imam Bukhari
Mukharrij/     I
V
حد ثنا
2
Adam bin Iyas
II
IV
حد ثنا
3
Syu’bah bin al-Hajjaj
III
III
حد ثنا
4
Qatadah bin Da’amah
IV
II
حد ثنا
5
Anas bin Malik
V
I
قال

1.   Imam Bukhari
            Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Ju’fi al-Bukhari. Beliau di lahirkan pada tanggal 13 Syawal 194 H bertepatan dengan 810 M di kota Bukhara.[15]
Guru dan muridnya dalam periwayatan hadis antara lain, guru-gurunya; Makki Ibn Ibrahim al-Balakhi, Abdan Ibn asy-Syalbani, Muhammad bin Muqatil dan Abu al-Yaman dan murid-muridnya; Abu Zu’rah, Abu Hatim, Ibn Huzaimah dan lain-lain.[16]
Pernyataan kritikus hadis terhadapnya; Abdullah bin Hanbal berkata “ saya pernah mendengar ayah saya berkata “Negeri Khurasan tidak pernah melahirkan seorang putra yang menandingi Muhammad bin Isma’il”, at-Tirmidzi berkata “saya tidak pernah melihat orang yang dalam Illat dan rijal lebih mengerti dari pada Bukhari”, Ibnu Subki berkata ”Ia Imam bagi kaum muslimin, teladan bagi muhaddisin guru bagi kaum yang beriman.[17]
2.Adam Ibn Abi Iyas.
Nama Lengkap lengkapnya adalah Adam bin Abu Iyas. Kalangan tabi'ut tabi'in kalangan biasa. Kuniyah  Abu al-Hasan. Negeri semasa hidup adalah Bagdad serta beliau wafat pada tahun 220 H.
Guru dan murid antara lain; gurunya Syu’bah bin Hajjaj, La’iz dan muridnya, Imam Bukhari, ad-Darimy, Ubaidah bin Adam dan Abu Hatim.[18]
            Kemudian berkenaan dengan intergitasnya beberapa ulama memberikan komentarnya, yaitu  Abu daud; menganggap beliau tsiqah, Abu Hatim; menganggap tsiqah terpercaya ahli ibadah, termasuk hamba Allah yang terbaik, Ibnu Hajar Asqalani; menganggap tsiqah ahli Ibadah, al-Ajli; menganggap tisqah, Ibnu Hibban; menganggap tsiqah.[19]
3.Syu’bah bin al-Hajjaj.
Nama lengkapnya Abu Bustham Syu’bah Ibnul Hajjaj al “Utakiy al Azdy, ia berasal dari Wasith kemudian hijrah dan menetap di Bashrah. Ia seorang ulama dari golongan tabi’it tabi’in dan seorang yang hafidh dari tokoh hadis. Ia wafat di Bashrah pada tahun 160 H dalam usia 77 tahun. Guru dan muridnya dalam periwayatan hadis di antara guru-gurunya adalah ‘Abad bin Tuglub, Ibrahim bin ‘Ami>r bin Mas’u>d, Qais bin Muslim, Sulaiman al-A’masy.  Sedangkan murid-muridnya adalah Yazi>d bin Harun bin Wadi, Yahya al-Qat}t, Muhammad bin Abi> Adi, Ibn Mubarak, Yahya al-Qat}}}t{an.[20]
             Kemudian  berkenanan dengan integritasnya beberapa ulama memberikan komentarnya: Al-‘Ajli; menganggap tsiqah tsabat, Ibnu Sa’d; menganggap tsiqah ma`mun, Abu Daud; menganggap tidak ada seorangpun yang lebih baik haditsnya dari padanya, Ats-Tsauri; menganggap amirul mukminin fil hadits, Ibnu Hajar Al-Atsqalani; menganggap tsiqoh hafidz, Adz-Dzahabi; menganggap tsabat hujjah.[21]
4.Qatadah bin Da’amah.
            Nama Lengkap: Qatadah bin Da’amah bin Qatadah. Kalangan tabi’in kalangan biasa. Kuniyah  Abu Al-Khatthab. Negeri semasa hidup Bashrah. Wafat  117 H.
            Guru dan Murid Qatadah bin Da’amah antara lain; gurunya, Anas bin Malik. Muridnya Syu’bah bin al-Hajjaj, Hisyam bin Abu Abdillah, Abu ‘Awanah dan lain-lain.[22]
             Kemudian berkenaan dengan integritas beberapa ulama memberikan komentarnya: Yahya bin Ma’in; menganggap Tsiqah, Muhammad bin Sa’d; menganggap tsiqah ma`mun, Ibnu Hajar al ‘Asqalani; menganggap tsiqah tsabat, Adz Dzahabi; menganggap Hafizh.[23]
5.Anas bin Malik .
            Nama Lengkapnya Anas bin Malik bin an-Nadlir bin Dlamdlom bin Zaid bin Haram. Kalangan Shahabat. Kuniyah Abu Hamzah. Negeri semasa hidup Bashrah.Wafat : 91 H.[24]
Diantara Guru dan Murid Anas bin Malik; Gurunya Rasulullah Saw, Abu Bakar, Umar bin Khattab, Ustman bin Affan, Abdullah bin Rawahah, Fatimah al-Zahra, Tsabit bin Qays, Abduhr Rahman bin Auf, Ibnu Ma’sud, Malik bin Sa’saah, Abi Zan, Ubay bin Ka’ab, Abi Talhah, Muaz bin Jabal, dan lain-lain. Muridnya Hasan, Sulaeman al-Tayri, Abu Qilabah, Abdu Aziz bin Suhaib, Ishak bin Abi Talhah, Abu Bakar bin Abdillah al-Mazimi, Qatadah, Tzabit, Humaid, Ubaidillah bin Abi Baka, , bin Aus, Ibrahim bin Maesas, Barid bin Abi Maryam, Yahya, Said al-Anshais,  dan lain-lain.[25]
Pada waktu Abu Bakar meminta pendapat Umar mengenai pengangkatan Anas bin Malik menjadi pegawai di Bahrain, Umar memujinya :” Dia adalah anak muda yang cerdas dan bisa baca tulis, dan juga lama bergaul dengan Rasulullah”.Sedangkan Komentar Abu Hurairah tentangnya : “ Aku belum pernah melihat orang lain yang shalatnya menyerupai Rasulullah kecuali Ibnu Sulaiman (Anas bin Malik)”.Ibn Sirin berkata:” Dia (Anas) paling bagus Shalatnya baik di rumah maupun ketika sedang dalam perjalanan”.[26]
c.Natijah/kesimpulan

            Setelah melakukan penelitian pribadi periwayat yang terdapat, maka penulis tidak menemukan satupun dari perawi hadis tersebut diyatakan dha’if, bahkan komentar ulama menyatakan tsiqah. Maka hadis termasuk hadis sahih.
3.Kritik Matan.
            Dalam kritik matan hadis, ada beberapa syarat-syarat kesahihan matan hadis:
1.      Matan hadits tidak bertentangan dengan al-Qur’an.
2.      Matan hadits tidak bertentangan dengan sabda Kenabian.
3.      Matan hadits tidak bertentangan sirah Nabawiyah.
4.      Matan hadits tidak bertentangan dengan fakta sejarah.
5.      Matan hadits tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan (akal, indra).[27]
Berdasarkan  syarat-syarat kesahihan matan hadis, matan hadis yang dikaji, penulis tidak menemukan hal-hal yang bertentangan dengan syarat-syarat kesahihan matan hadits. Sebagaimana firman Allah SWT surah al-Kautsar ayat 2:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya:
            “Maka dirikan shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban”. (al-    Kautsar: 2).
Jadi matan hadis tersebut berkualitas shahih. Kedua matan hadis tersebut, terdapat beberapa perbedaan lafaz. Lafaz yang penulis maksud:
-          Riwayat Bukhari : وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا يُسَمِّي وَيُكَبِّرُ فَذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ
-          Riwayat muslim    : ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا
Dengan adanya perbedaan lafaz maka penulis menilai hadis ini diriwayatkan secara makna.
B. Syarah Hadis Tentang Qurban
آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ قَالَ ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ فَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا يُسَمِّي وَيُكَبِّرُ فَذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami `Syu’bah telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih banyak daripada warna hitam, aku melihat beliau meletakkan kaki beliau di atas rusuk domba tersebut sambil menyebut nama Allah dan bertakbir, lalu beliau menyembelih domba itu dengan tangan beliau sendiri”.

Di dalam hadis  diatas ada kata:
a.ضحي  artinya kurban/udhiyyah.
            Al-Imam al-Jauhari Rahimullah menukil dari al-Ashmu’I bahwa ada 4 bacaan pada kata اضحية:
1.      Dengan mendhammah: أُضْحِيَّةٌ
2.      Dengan mengkasrah hamzah: إِضْحِيَّةٌ. Bentuk jamak untuk kedua kata di atas adalah أَضَاحِي boleh dengan mentasydid ya` atau tanpa mentasydidnya (takhfif).
3.      ضَحِيَّةٌ dengan memfathah huruf dhad, bentuk jamaknya adalah ضَحَايَا
4.      أَضْحَاةٌ dan bentuk jamaknya adalah أَضْحَى
Dari asal kata inilah penamaan hari raya أَضْحَى diambil. Dikatakan secara bahasa:  مُضَحِّ فَهُوَ تَضْحِيَةً, يُضَحِّي, ضَحَّى, al-Qadhi Rahimullah menjelaskan:”disebut demikian karena pelaksanaan (penyembelihan) adalah pada waktu ضُحًى (dhuha) yaitu hari mulai siang.” Adapun definisinya secara syar’i, dijelaskan oleh al-‘Allamah abu Thayyib Muhammad Syamsulhaq al-‘Azhim Abadi dalam kitabnya ‘Aunul Ma’bud (7/379): “Hewan yang disembelih pada hari nahr (Idul Adha) dalam rangka taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”[28]
b.  يُسَمِّي وَيُكَبِّرُ فَذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ artinya: menyebut nama Allah dan bertakbir, lalu menyembelih domba dengan tangannya sendiri.
            Hadis ini Menjelaskan bahwa Rasulullah SAW dalam menyembelih hewan kurban memulai dengan menyebut nama Allah (basmalah) dan takbir lalu menyembelih hewan qurban.         
 Hadits ini menyangkut kaifiyah/tata cara memotong hewan qurban:
a.       Bacaan-bacaan.
-Membaca basmalah, takbir, bersalawat, dan membaca do’a qurban bagi dirinya atau orang lain:
اللهم انّ هذه اضحية...........بن/ بنت............ فتقبلهامنّي اسمي ....... / منه اسمه ....../ منهااسمها........ ياكريم اللهم اجعلها فداء لى / له / لهامن النّاروسترالى / له/ لها من النّار وبراة لى / له / لها من النّار, ربنااتنا فى الدّنياحسنة وفىالاخرة حسنة وقناعذاب النّار. وصلّى الله على سيّد نا محمّد و على اله وصحبه وسلّم والحمدلله ربّ العالمين. امين
      b. Posisi Kambing.
- Keadaan kambing menyendeh dan kepala ke sebelah utara serta ditenggakan      diatas.
- Potong leher sebaiknya jangan terlalu dekat pada kepala dan jangan sampai putus.
 c. Alat pemotong.
              - Dengan pisau yang tajam dan sejenisnya.
- Pisau  tidak boleh diangkat sebelum yakin telah sempurna.[29]
Tata cara penyembelihan di atas, merupakan hasil ijtihad ulama yang tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan hadis.  










PENUTUP
Berdasarkan dari pembahasan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Sanad hadits tentang Qurban dari jalur bukhari sanadnya bersambung , perawinya dianggap tsiqah dan matannya diriwayatkan secara maknawi sehingga hadits tersebut merupakan hadits shahih.
2.      Hadits tersebut menjelaskan tata cara menyembelih hewan kurban dengan menyebut nama allah (basmalah) dan takbir.










DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Arifuddin, Paradigma Baru Memhami Hadits Nabi: Refleksi Pemikiran Pembaharuan Muhammad Ismail, Cet. I; Jakarta: Renaisan, 2005.

Al-Asqalani, Tahzib at-Tahzib , Jilid IX, India; Majelis Dai’rat al-Ma’arif an-Nizamiyyah, 1325.

Al-Majmu’ 8/215, Syarah Muslim 13/93, Fathul Bari 11/115, Subulus Salam 4/166, Nailul Authar 5/196, ‘Aunul Ma’bud 7/379, Adhwa`ul Bayan 3/470.

Al-Sibai, Mushthafa, @@al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri al-islami, Keiro: al-Dar al-Qawmiyah, 1966.

Ensiklopedia Hadits/Program CDHK91 Ver. 1, Kitab 9 Imam: Bukhari; Kurban/Orang yang menyembelih dengan tangannya sendiri, Lidwa Pusaka, 2010.

Ensiklopedia Hadits/Program CDHK91 Ver. 1, Kitab 9 Imam: muslim; Kitab : Hewan kurban Bab : Sunahnya berkurban dan menyembelihnya sendiri tenpa mewakilkannya kepada orang lain, Lidwa pusaka, 2010.




Husnan, Ahmad, kajian Hadis Metode Tahrij, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1993.

Ibn Ahmad al-Adhlabi, Salahuddin >, Manhaj Naqd al-Matn ‘Inda ‘Ulama> ;al-Hadi>s| al-Nabawi>,  Cet. I; Beirut: Da>r al-Afa>q, 1983.

Suyuthi,Jalal al-Din Abd al-Rahman in Abi bakar, al-Laili al-Mashnu’ah fi al-Hadits al-Maudhu’ah (Mesir: al-Maktabah al-Husainiyah, tth), h. 467.

Syuhudi Ismail, Muhammad, metodologi Penelitian, Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1992.

Syuhudi Ismail,Muhammad, kaedah-kaedah kesahihan sanad hadis, Jakarta: Bulan Bintang, 1988.

Yaqub, Ali Mustafa, Imam Bukhari dan Metodologi Kritik Dalam Hadis , Cet, II: Jakarta: IKAPI, 1992.

Ibn ‘Abdu al-Hadiy, Abu Muhammad ‘Abdu al-Mahdi, Thuruqu Takhri>ji Hadisi Rasulullah saw, (Kairo: Da>r al-I’tisham, 1987

















HADITS RIWAYAT BUKHARI TENTANG QURBAN
(Syarah dan Kritik Hadits)






Makalah


Disusun untuk dipresentasikan pada seminar kelas
“Mata Kuliah Syarah dan Kritik Hadits” Semester II PQH II
Tahun Akademik 2009/ 2010


Oleh:
ABDUL GAFUR AMIN
NIM. 80100209071


Dosen Pemandu:


Dr. Hj. Rosmaniah Hamid, M.Ag.
Dra. Sitti Aisyah, MA., PhD.





PROGRAM PASCA SARJANA (PPs)
 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2010


[1] Mushthafa al-Sibai, al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islami, (Kairo: al-Dar al-Qawmiyah, 1966), h.83-84.
[2]Jalal al-Din Abd al-Rahman bin Abi Bakar Al-Suyuthi, al-Laili al-Mashnu’ah fi al-Hadits al-Maudhu’ah, (Mesir: al-Maktabah al-Husainiyah, tth), h. 467.
[3] Syuhudi Ismail, Kaedah-Kaedah Kesahihan Sanad Hadis  (Jakarta: Bulan Bintang, 1988), h. 95-96
[4] Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian  (Cet. I; Jakarta: Bulan Bintang, 1992), h. 15-16.
[5] Abu^ Husain Ahmad bin Faris bin Zakarya, Mu’jam Maqaa^yi^s al-Lugah ( Beirut: Da^r al-Jail,1411H/1991 M), h. 175
[6]Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi: Refleksi Pemikiran Pembaharuan Muhammad Ismail  (Cet. I; Jakarta: Renaisan, 2005), h. 16.
[7]Abu Muhammad ‘Abdu al-Mahdi ibn ‘Abdu al-Hadiy, Thuruqu Takhri>ji Hadisi Rasulullah saw, (Kairo: Da>r al-I’tisham, 1987), h. 24.
[8] Ensiklopedia Hadis/Program CDHK91Ver 1, Kitab 9 Imam, (Lidwa Pusaka, 2010).

[9] Ensiklopedia Hadis/Program CDHK91Ver 1, Kitab 9 Imam: Bukhari; Kurban/Orang yang Menyembelih Dengan Tangannya Sendiri, (Lidwa Pusaka, 2010) No. 5132.
[10] Ensiklopedia Hadis/Program CDHK91 Ver. 1, Kitab 9 Imam: Muslim; Kitab : Hewan Kurban Bab : Sunahnya Berkurban dan Menyembelihnya Sendiri Tanpa Mewakilkannya Kepada Orang Lain, (Lidwa Pusaka, 2010),  No. 3635.
[11]Syuhudi Ismail, op cit.,  h. 5.
[12]Ibid, h. 70.
[13]Ibid, h. 63.
[14] Arifuddin Ahmad, op. cit., h.73.
[15] Ali Mustafa Yaqub, Imam Bukhari dan Metodologi Kritik Dalam Hadis  (Cet, II: Jakarta: IKAPI, 1992), h. 5.
[16] Al-Asqalani, Tahzib at-Tahzib , Jilid IX  (India; Majelis Dai’rat al-Ma’arif an-Nizamiyyah, 1325), h. 394-395.
[17] Ahmad Husnan, Kajian Hadis Metode Tahrij  (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1993), h. 23-24.
[18] Ibnu Hajar al-Asqalai, op. cit., h.101.
[19] Ensiklopedia Hadits/Program CDHK91 Versi 1, loc.cit,  No. 5132.
[20] Ibnu Hajar al-Asqalani, Tahdzib at-Tahdzib, Jus  IV (Cet. I; Beirut: Muasasah al-Risalah, 2001), h. 358.
[21]Ensiklopedia Hadits/CDHK91 Versi 1, op.cit.,
[22] Ibnu Hajar al-Asqalani, op. cit., h. 223.
[23] Ibid,
[24] Ibid,
[25] Ibnu Hajar al-Asqalani, op. cit., h. 343.
[26] Ibnu Hajar al-Asqalani, op. cit., h. 319.
[27]Salahuddin ibn Ahmad al-Adhlabi>, Manhaj Naqd al-Matn ‘Inda ‘Ulama> ;al-Hadi>s| al-Nabawi>  (Cet. I; Beirut: Da>r al-Afa>q, 1983 M), h. 225-227.
[28] Al-Majmu’ 8/215, Syarah Muslim 13/93, Fathul Bari 11/115, Subulus Salam 4/166, Nailul Authar 5/196, ‘Aunul Ma’bud 7/379, Adhwa`ul Bayan 3/470.

Tidak ada komentar: